Business Joomla Themes by Justhost Reviews
  • Nampa bergabung dalam Pameran

Sistim Zoning Peluang Untuk Memajukan Industri Peternakan

Category: Pertanian

oleh HaniwarSyarif 

Yang pertama harus dilakukan sebelum  ingin memajukan Peternakan kita, tentunya untuk mengetahui posisi kita saat ini.

Salah satu pendekatan yang bisa dilakukan adalag mengamati konsumsi daging perkapita kita dibanding Negara lain. 

Dari data yang kami peroleh di website  www.earthtrends.wri.org,  tercatat data untuk  tahun 2002,. Konsumsi daging perkapita Indonesia adalah 8.3 Kg pertahun. Yang  mengejutkan, dengan angka konsumsi sebesar  itu didaftar  127 negara sedang berkembang,,kita   berada pada posisi 113 , atau no 14 dari bawah.

13 negara yang lebih rendah dari Indonesia adalah : 

 

Bangladesh

3,1

India

5.2

Virgin Island

6.6

Bhutan

3.5

Mozambique

5.6

Burundi

3.5

Comoros

7.6

Rwanda

4.4

Ethiopia

7.9

Congo

4.8

Sierra Leone

6.1

 

 

Guinea

6.5

Sri lanka

6.6

 

 

 

 

 

Walau ini data tahun 2002, tampaknya masih bisa dipakai sebagai patokan yang relevan,  karena konsumsi daging kita di tahun 2006 ini perkapita tak ayal lagi  masih sekitar 8.3 kg itu , dengan rincian daging sapi hanya 1.7 kg, perkapita, dan ayam di sekitar 6 kg.

Data konsumsi daging perkapita beberapa Negara Asia dan Amerika Latin yang masuk dalam daftar negara berkembang adalah sbb. :

 

Argentina

97.6

Iran

23.1

Thailand

27.9

Brunei Dar.

56.4

Makaysia

50.9

Brazil

82.4

Colombia

33.9

Mexico

58.6

 

 

Cyprus

131.3

Philipine

31.1

 

 

Dominica

67.1

Singapore

71.1

 

 

 

Melihat data ini, kita bisa menyimpulkan betapa  rendahnya konsumsi daging kita, dan dari kacamata lain dengan mengharap peningkatan income perkapita dan kesadaran memakan makanan sehat asal hewani , maka terdapat potensi kenaikan permintaan yang luar biasa besarnya  dimasa mendatang.

Bisa di bayangkan jika  konsumsi kita naik 100 persen saja, maka baru kan mencapai sekitar 17 kg,ang berarti masih jauh tertinggal dari Negara tetangga Asean kita. 

Dan rasanya saran Bung Karno untuk menggantungkan “cita cita setinggi langit”, masih belum kita lakukan jika kita hanya memproyeksi kan kenaikan 100 persen itu.

Tetapi untuk itu pun kerja keras dengan kebijakan yang benar sudah harus dilakukan.

Rendahnya konsumsi daging kita, dari segi permintaan disebabkan oleh rendahnya pendapatan perkapita, dan tingginya harga daging. 

Dari sisi penawaran , hal ini terjadi karena terlalu banyaknya kendala untuk memajukan peternakan kita, misalnya sulitnya mendapat dana murah untuk investasi, ketiadaan infra struktur dan juga ketiadaan dana untuk riset.

Perlindungan yang selama ini di berikan kepada dunia peternakan, misalnya dengan tetap menganut country base dalam impor daging , nyaris tidak bermakna untuk mendongkrak produksi ternak ,terutama ternak sapi kita.

Investasi asing yang diharapkan untuk masuk kedalam dunia peternakan sapi  juga tak kunjung datang. 

Sistim Country base dalam impor daging sapi , yang sebenarnya tidak lebih dari trade barrier demi memberi peluang kemajuan bagi peternakan sapi  kita tampaknya belum berhasil memberi dampak positip 

Dilain pihak  dunia perunggasan merasa bahwa sistim country base ini merugikan perkembangan peternakan ayam, sehingga dalam Trobos edisi 85, bukan saja mempertimbangkan zone base bahkan  melompat ingin diterapkannya compartment base.

Bapak Menteri Pertanian, Anton Apriantono, pernah mengingatkan bahwa impor dengan sistim zone dan atau compartment, bisa juga menguntungkan kita dengan menunjuk kasus perunggasan dimana kita bisa menarik manfaatnya karena sebenarnya kita sudah memiliki potensi ekspor, yang sayangnya karena kita menganut sistim Negara, maka dari penjuru Indonesia manapun produk ayam itu berasal tetap akan di tolak oleh pihak importer., Pak Anton m,engingatkan, Negara lain tidak akan terima  jika kita menggunakan aturan tidak konsisten, country untuk sapi , tapi zone atau compartment untuk unggas.

Dengan telah adanya sinyal bahwa pihak perunggasan bisa menerima sistim yang bukan “country “ biarlah tulisan ini memfokuskan diri pada keuntungan apa yang bisa di peroleh dan bagaimana mendapat keuntungan itu jika kita menganut sistim zone  dalam impor daging sapi. 

Dari sisi konsumen, pembukaan pasokan dari zone yang bebas PMK, jelas akan memberikan peluang mendapat barang yang  lebih murah, dimana bahkan dengan daya beli yang tetap pun konsumen akan diuntungkan. Begitu juga industri Pengolahan daging , lebih bisa berkembang dengan akibat berikut  adanya perluasan pabrik, penciptaan lapangan kerja baru , yang juga bisa mendorong pengurangan kemiskinan dan pengangguran.

Yang menjadi persoalan bagaimana nasib peternakan sapi Indonesia ?? akan hancurkah ?? atau malah ada jalan untuk memanfaatkan menjadi suatu yang positif bagi kemajuan peternakan sapi Indonesia.?

Kenyatan bahwa populasi sapi tidak meningkat kalau tidak malah merosot dalam 10 tahun terakhir setelah dilakukan trade barrier dalam bentuk peraturan impor berbasis Negara , menunjukkan , bahwa trade barrier tidak mujarab untuk meningkatkan produksi ternak sapi. Kebanggan bahwa kita bebas PMK dan BSE juga tidak membawa dampak positif pada meningkatnya produksi .

Ironisnya dalam masa itu banyak sekali masuk daging impor illegal baik yang tertangkap maupun yang lolos, dan bukan mustahil yang lolos jauh lebih besar, dimana pemerintah tidak memperoleh pajak masuknya.

Untunglah situasi ini, nyatanya tidak menyebabkan telah munculnya penyakit PMK atau BSE di Negara kita ini. 

Kami sendiri percaya bahwa dilakukannya sistim zone  khusus untuk impor daging sapi, bukan sapi hidup,  , dengan arahan tata cara sesuai rekomendasi OIE , adalah cukup aman bagi ternak kita, untuk menjaganya dari penularan penyakit

Tetapi untuk lebih mengamankan ,  dilakukan zonisasi untuk daerah peternakan di Indonesia dimana ada  daerah  dimana kita akan secara serius mengembangkan peternakan sapi kita, dan tidak boleh ada peluang terpapar penyakit dari luar daerah.

Usulan daerahnya adalah Nusatenggara Timur, Sulawesi dan Irian. Daerah ini , dijadikan tempat untuk  pengembangan agribisnis peternakan sapi kita, dan menjadi free zone  dan penjagaan super  ketat terhadap kemungkinan masuk penyakit sesuai aturan OIE , baik dengan menentukan buffer zone dan sebagainya , bahkan tidak boleh ada produk ternak , pakan atau hasil ternak yang berasal bukan dari Negara bebas yang boleh masuk ke wilayah ini.

 

beef charts

 Bagaimana dengan daerah lain, ? disinilah aturan impor menjadi tidak seketat itu, sehingga memasukkan barang daging dari zone atau bahkan kompartmen yang bebas dari penyakit dimungkinkan. 

Sudah jelas, bahwa hal ini akan menguntungkan konsumen,dengan lebih banyak sumber pasokan ,  lalu dimana manfaatnya bagi pengembangan peternakan sapi Indonesia. ??

Pokok kuncinya adalah pendapatan dari pemajakan atas impor daging sapi, harus dikembalikan pada pengembangan peternakan sapi kita di daerah zone peternakan itu. 

Seandainya ada penurunan harga beli daging impor rata rata 25 persen, maka dipajaki misal 10 persen yang sepenuh hasilnya  diarahkan pada pembiayan pembangunan peternakan di wilayah Indonesia Timur . Sementara yang 15 persen dinikmati oleh konsumen.

Jika 10 persen itu berarti Rp.4,000  ( dengan harga sekarang daging sekitar Rp.40.000,)  maka dana yang akan didapat  adalah : 230juta( jumlah rakyat)  dikali 1.75 kg   (konsumsi perkapita ) dikali Rp.4.000 pertahun  atau ekivalen dengan Rp.1.610 

Jadi dengan memajaki Rp.4.000  , dengan asumsi semua daging di impor dulu, dan konsumsi perkapita tetap 1.7 kg maka akan diperoleh dana sebesar 1, 6 trilyun per tahun . Seandainya karena harga daging turun , tingkat konsumsi naik , maka jumlah akan jadi lebih besar, begitu juga jika pajaknya bukan Rp.4.000 melainkan Rp.6.000

Dana ini dapat  di gunakan untuk mengimpor bibit, menciptakan prasarana yang baik,  persiapan lahan untuk menanam pakan ternak   , penelitian baik untuk mendapatkan pakan maupun pemulyaan ternak, yang baik  bahkan kalau perlu dengan teknologi mutakhir seperti GMO

Pelaku peternakan , diprioritaskan pada pelaku peternakan sapi yang sekarang ada termasuk feedlotter , yang semuanya  di relokasi ke Indonesia Timur, tentunya lengkap dengan insentifnya.

Hal lain yang perlu dilakukan adalah membuat ketertarikan investor asing, untuk menanam modal disana, dengan prioritas tentunya investor Australia ,New Zealand  yang sudah cukup mengenal permasalahan sapi di Indonesia.

Sebagai pembanding soal invstasi asing, dalam edisi Feed Bussines Asia  November/December 2006 ada berita bahwa di Vietnam , Sektor Livestock breeding dan pengolahan daging telah berhasil menarik 88 proyek penaman modal asing senilai USD 858 million.

Sudah saatnya untuk membangun peternakan sapi sejati yang bukan pelengkap dari agrobisnis padi ataupun kelapa sawit.

Tetapi untuk melakukan itu kendala utama nya adalah dana , yang tampaknya saat ini tidak dimiliki baik oleh swasta maupun pemerintah. 

Muladno dalam Trobos no 85  ,  dengan judul tulisan “just do it” , menulis :” investasi di pembibitan sapi sangat ribet , perlu waktu lama untuk perputaran uangnya. Dan jadi tugas pemerintah untuk membuat suasana kondusif bagi investor.” 

Tapi investor jelas sulit mau masuk kalau bahkan prasarana seperti jalan dan pelabuhan harus ditanggungnya sendiri, Sementara pemerintah masih kesulitan uang untuk membangunnya.

Kata Muladno lagi , “lihat saja sapi Bali tumbuh baik di wilayah yang kondisi buruk, sapi PO tumbuh baik didataran rendah ..lalu tunggu apa lagi  , just do it..” 

Hanya tanpa dana, just do it, akan  jadi seruan  hampa,  semuanya jadi omong kosong, dan hanya meminta pemerintah bertindak tanpa memberi tahu yang harus di buat juga kurang bijak,

Bagaimana kalau kita sarankan pemerintah  memberlakukan sistim zoning bahkan compartment dalam impor daging sapi ? 

Sementara pengembangbiakan kita lakukan, katakanlah selama 5 tahun kedepan  , semua kebutuhan daging kita impor, pemerintah memajaki , katakanlah Rp.4.000 dan dananya liwat APBN dikembalikan untuk membuat suasana kondusif nya peternakan sapi di Indonesia Timur.

Sesudah siap, ada dua pilihan , kalau cukup kita penuhi dari produksi dalam negeri, kalau tidak ya , sebagian mungkin kita impor, tapi paling tidak kita bisa berproduksi sama banyak dengan Australia saat ini. 

Kerugian ?? tidak ada  !!, di daerah free zone kita, akan kita  cegah masuknya penyakit hewan , dan semua pemain lama dalam peternakan sapi akan tetap eksis di beri prioritas untuk berusaha disana. Di daerah luar zone peternakan  ini, akan dapat memperoleh daging ASUH yang relatip murah, sekaligus pencetak uang dari pajak untuk membangun industri persapian..

 Mungkinkah ???   

 Gagasan ini masih amat kasar… tetapi bolehkan di lontarkan..