Business Joomla Themes by Justhost Reviews
  • Nampa bergabung dalam Pameran

Bawang, Mengapa Melonjak Harganya

Category: Pertanian

Anton Apriyantono

1. Dengan semakin meningkatnya permintaan maka produksi bawang putih tidak mampu memenuhi permintaan karena lahan yg terbatas, petani hrs memilih mau menanam apa? Selain itu, akibat masalah infrastruktur dan transportasi (mahal) maka bawang putih kiita tidak bisa bersaing dengan bawang putih dari cina (disana penanaman bisa dlm skala luas, infrastruktur bagus dan transportasi relatif lancar dan lebih murah). Untuk bawang merah, lahan yg digunakan utk menanam bawang merah juga sebagian digunakan utk menanam padi, pada waktu menanam padi, produksi akan jauh berkurang dan ini diiisi oleh bawang impor, ketika impor ditutup pada waktu yg salah seperti saat ini, jelas saja supply jauh berkurang.

Dalam masalah lahan, saya sering mengingatkan bahwa Indonesia ini lahan pertaniannya sempit, rata2 per kapita hanya sepertiga rata2 dunia, akibatnya tidak bisa semua kebutuhan dipenuhi, komoditi yang satu ditingkatkan dg ekstensifikasi berakibat turunnya komoditi lain akibat lahan yg digunakan itu2 saja. Jangan lupa menanam komoditi pangan tidak sama dg komoditi perkebunan spt sawit, secara umum utk komoditi pangan lebih rewel (banyak persyaratannya), dan sebagian besar pangan itu diproduksi di Jawa, sementara itu lahan pertanian di Jawa dikonversi terus utk perumahan, industri, perkantoran, dll. Jika kita menyadari bahwa lahan pertanian kita sempit maka akan timbul keinginan kuat utk mempertahankan lahan pertanian yg ada, khususnya Jawa yg subur ini, akan tetapi kita terbuai oleh sebutan negara agraris, lalu membayangkan dan mengharapkan dengan sebutan itu kita punya lahan subur yg banyak yg bisa kita tanami apa saja sehingga semua kebutuhan produk pertanian kita terpenuhi.realitas yg terjadi skg seharusnya menyadarkan kita akan persoalan lahan ini, sehingga selain mempertahankan bahkan memperluas lahan utk pertanian pangan, juga hrs mengembangkan teknologi produksi pertanian lahan sempit, hrs mengembangkan pertanian dengan produktifitas dan eifisiensi yang tinggi.

2. Kebijakan impor yang keliru. Dengan semangat utk mengurangi impor krn merasa Indonesia sebagai negara agraris maka dilakukan penyetopan impor pada waktu yg keliru dan dengan tidak memperhitungkan dg baik berapa kebutuhan bawang merah dan bawang putih per bulannya, lalu berapa produksi per bulannya. Seharusnya, pengaturan impor itu, kalaupun dilakukan, dilakukan pd waktu panen raya saja, bulan2 januari sampai maret itu bulan2 panen padi, produksi bawang merah sedikit sekali, ini impor malah disetop, ya jelaslah terjadi kekurangan.

3. Kepanjangan dan Kelambanan birokrasi. Birokrasi impornya kepanjangan dan lamban pula, harus disederhanakan dan dipangkas dan hrs dilayani dengan cepat.